Sedang tertarik investasi

Semakin ke sini, makin tertarik untuk alokasikan dana ke instrumen investasi, entah lewat reksadana maupun pasar uang. Pelan-pelan, sebagian kecil keuntungan dari cetak undangan, cetak topper, cetak foto, sampai laminating mulai dipisahkan khusus untuk pos investasi. Tujuannya simpel: biar uang nggak diam saja dan nilainya bisa tetap terjaga meski inflasi bikin rupiah makin turun.

Kalau lihat simulasi investasi obligasi, seru banget rasanya kalau punya modal sampai Rp200 juta. Dari jumlah itu, bisa muncul passive income hampir Rp1 juta per bulan. Tapi tentu perjalanan menuju angka segitu dimulai dari kecil dulu—mungkin Rp10 ribu atau Rp20 ribu—sambil melatih mental supaya siap pegang dana lebih besar.

Nah, kalau dibandingkan dengan aktivitas usaha, perbedaannya cukup kentara. Bayangin investasi itu kayak nanem pohon mangga. Modal Rp200 juta bisa tumbuh pelan-pelan dan tiap bulan panennya cuma sekitar Rp1 juta. Sementara kalau bicara usaha, modal Rp5–10 juta aja kadang bisa kasih hasil Rp1 juta dalam sebulan. Bedanya, usaha itu kayak dagang gorengan—cepat laku, cepat untung, tapi harus rajin jaga warung tiap hari. Sedangkan investasi lebih ke arah sabar nunggu pohon mangga berbuah; butuh waktu, tapi buahnya stabil dan nggak bikin repot tiap hari.

Intinya, investasi bukan buat kejar untung besar dalam waktu singkat, tapi untuk menjaga nilai uang tetap tumbuh meski pelan. Sedikit demi sedikit, lama-lama jadi bukit. Jadi, yuk mulai sisihkan sebagian uang jajan atau keuntungan usaha buat investasi masa depan. Nggak perlu besar di awal, yang penting konsisten.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *